Pencarian Tulisan

Jumat, 06 Januari 2012

Penghormatan bagi Pemilik Semangat Tinggi

-Dr Aidh bin Abdullah Al-Qarni-

Penghormatan bagi pemilik semangat tinggi. Mereka bagian suci dari manusia. Mereka kelompok mulia dan terhormat. Ruh mereka terbang ke sudut-sudut yang tinggi. Mereka ada dalam tangga-tangga abadi. Barangsiapa yang ingin ketinggian, semua yang memberatkan akan menjadi ringan. Nash-nash wahyu menyerumu. Bersegeralah jangan abai. Bersegeralah jangan berdiam. Umayyah bin Khalaf, ketika ia duduk bersama orang yang tidak berangkat berjihad, ia tahu dirinya merugi. Saat Bilal bin Rabah mendengarkan “Hayya alal falaah”, mari capai kemenangan, ia pun segera bangkit dan menjadi tokoh pengukir kemenangan.

Tuntutlah selalu ketnggian. Musa alaihissalam dahulu dikhususkan oleh Allah dengan Al Kalam (kemampuan berbicara kepada Allah). Musa alaihissalam berkata, “Rabbi arinii anzur ilaik” Tuhanku, berikan aku kesempatan untuk melihat-Mu. Kemuliaan tak datang tiba-tiba, tapi ia merupakan hasil jerih payah. Ketika Hud hud membawa surat kepada Bilqis, maka namanya tercantum dalam surat An-Naml. Seekor semut selamat dari injakan pasukan Sulaiman, dengan jerih payah dan kesabaran. Lalu, engkau ingin kemuliaan tanpa keseriusan? Engkau ingin mencapai ketinggian, namun tidur di malam-malam. Engkau ingin surga, namun meremehkan sunnah.

Rasulullah shalallahu’alaihiwasallam berdiri shalat hingga kakinya bengkak. Dimasukkannya batu di sela perutnya untuk menahan lapar. Berdarah kakinya oleh lemparan batu. Terjun langsung ke berbagai peperangan. Abu Bakar namanya diseru di pintu-pintu surga, karena hatinya terikat dengan Tuhannya setiap detiknya. Perkataannya selalu untuk agamanya. Tindakannya selalu dalam rangka agamanya. Tindakan-tindakannya selalu dalam rangka menebar hidayah. Kebenaran ditegakkannya. Harta diinfaqkannya di jalan Allah. Ia berhijrah dan meninggalkan keluarganya. Umar bin Khatthab mengenakan pakaian yang sobek. Ia berteriak sakit saat mengingat kematian. Lalu ia sangat berhati-hati menjalani agamanya. Ia berlaku adil, jujur dan begitu serius. Ia meminta Allah agar diberikan rizki mati syahid. Allah pun merizqikannya mati syahid, di masjid.

Wahai yang terbelenggu oleh nyanyian, keluarlah dari kerengkeng mimpi. Bersihkanlah debu kekotoran dari tubuhmu. Tinggalkanlah yang menghalangimu. Semua yang menempuh perjalanan akan sampai pada tujuan. Apakah engkau lupa pada ayat-ayat Allah? Mengapakah engkau tunda shalat? APakah engkau buang usiamu dengan kesia-siaan? Lalu engkau ingin masuk surga?

Demi Allah, semut kenyang mendapatkan makanan setelah ia serius mencari makanan. Singa akan berjuang keras, jatuh bangun, untuk menerkam mangsanya. Anak panah takkan pernah bisa mencapai sasarannya bila tetap di dalam sarungnya. Pedang takkan bisa memotong apapun sampai ia menjadi lebih tajam daripada pisau. Burung membangun sendiri tempat tinggalnya. Laba-laba, begitu teliti membangun sarangnya. Kadal menggali lubang-lubang untuk bersembunyi. Rayap membangun rumahnya dengan menggerogoti kayu. Engkau mempunyai kesempatan, Rasulullah bersabda “Peliharalah apa yang berguna bagimu.” Itu karena yang bermanfaat itu akan meninggikanmu. “Seorang mukmin kuat lebih baik dan lebih dicintai Allah daripada Mukmin yang lemah.” Karena kekuatan bisa berguna untuk membangun istana megah, dan meraih kemuliaan dan ketinggian.

Pemilik semangat akan berlomba mendahului orang lain, mencapai ketinggian. “Wassabiquuna saabiquun, ulaaikal muqarrabuun.” Dan orang-orang yang lebih dahulu, merekalah orang-orang yang dekat (kepada Allah). Karena mereka terlatih melakukan keshalihan dan terbukti melakukan ketaatan. Matahari berputar. Bulan berjalan. Sedangkan engkau tidur tidak sadar. Engkau makan dan minum, bermain dan melakukan dosa.

Sebagian muhadditsin buta matanya karena terlalu banyak membaca. Tak ada lelah, tak ada kebosanan, sampai tercapainya tujuan. Imam Ahmad bin Hambal berjalan kaki dari Baghdad ke Shan’a. Tapi engkau sudah lelah ketika menghafal do’a. Salah seorang ulama shalih menempuh perjalanan selama satu bulan hanya untuk memperoleh satu hadits. Agar ia tahu bagaimana kemuliaan yang abadi itu. Andai bukan karena berat dan dahsyatnya ujian, tidaklah Imam Ahmad disebut Imam as Sunnah. Kekasaran bisa membawa pada kemuliaan. Ibnu Taimiyah dipenjara, lalu ia menjadi tokoh ulama yang langka di zamannya. Ketahuilah bahwa air yang mengenang dan diam itu air yang rusak. Karena ia tidak mengalir, tidak berjalan dan tidak mempunyai tantangan. Jika air sudah mengalir, ia akan memberikan manfaat untuk memenuhi kebutuhan makhluk hidup.

Letakkan kakimu di bintang yang tinggi,

Miliki semangat paling tinggi di bintang tertinggi.

Wahai orang yang banyak tidur, apa manfaat tidurmu? Kelak engkau akan membayar mahal karena tidurmu. Allah memerintahkan kita untuk beramal, dan memperhatikan apa yang sudah kita kerjakan. Allah subhanahu wata’ala berfirman, “Dan orang-orang yang berjihad dijalan Kami, akan kutunjukkan mereka jalan-jalan Kami.” Ketahuilah, hidup ini adalah aqidah dan jihad, kesabaran dan kekasaran, perjuangan dan pegorbanan, kebaktian dan kemenangan. Tak ada tempat dalam hidup ini bagi orang-orang yang malas. Tak ada ruang di kendaraan dunia bagi orang yang lemah.

Lihatlah orang kafir yang begitu tekun bekerja. Setiap hari mereka berusaha keras. Mereka membuat mobil di atas bumi. Mereka menemukan pesawat terbang untuk terbang ke langit. Mereka membuat kulkas untuk makananmu. Mereka membuat tempat untuk menyimpan airmu. Sementara engkau tidak bekerja apa-apa, kecuali makan dan minum, bersenda gurau dan bermain.

Engkau cepat bosan, dan Malaikat tidak pernah bosan. Engkau cepat putus asa dalam beramal sedangkan Malaikat tidak pernah putus asa. Lalu dengan apa engkau akan masuk syurga? Apakah engkau tertikam senjata dijalan Allah? Apakah engkau tersiksa karena mendunkung sunnah? Bersihkanlah debu-debu malas dari dirimu wahai orang malas. Bilal sang pemilik semangat tinggi itu telah mengumandangkan adzan di telingamu, apakah engkau mendengarnya? Orang yang menyeru kebaikan telah memanggilmu, mengapa engkau tidak bersegera memenuhi panggilannya?

Mulailah berburu pahala sejak pagi hari. Bacalah Al-Qur’an dan berdzikirlah. Bacalah do’a dan bersyukurlah. Karena pagi hari adalah saat bertolaknya burung-burung dari sarangnya. Dan jangan lupa, sabda Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam, “Keberkahan Allah untuk ummatku ada pada pagi harinya”.
-Dr Aidh bin Abdullah Al-Qarni-
Selengkapnya >>>

Kamis, 29 Desember 2011

Nasehat Bunda Yoyoh Untuk Sang Putera

Nasihat untuk sang putera
Berikut adalah korespondensi saya yang terkahir melalui email dengan almarhumah ibu saya, ummi Yoyoh Yusroh, 3 hari sebelum beliau dipanggil oleh Allah SWT tanggal 21 Mei 2011 kemarin.

Nasihat terakhir dari ummi ini akan selalu kuingat.Semoga amal ibadah ummi diterima di sisi Allah, dilapangkan kuburnya, diampuni segala dosa-dosanya, dan dimasukkan ke dalam surganya. Dan agar kami anak-anaknya, suaminya, dan keluarga serta kerabat terdekat dikuatkan dan diberikan ketabahan dalam melanjutkan hidup kami tanpa ummi yang sangat kami cintai. InsyaAllah cita-cita, keinginan, pengabdian, kerja keras, dan dawah ummi akan terus kami lanjutkan


Selamat jalan ummi, kami ikhlaskan kepergianmu. Semoga Allah menempatkan ummi di surganya yang mulia.From: Yoyoh Yusroh
Date: 2011/5/18
Subject: Nasihat untuk sang putera
To: Aizza Jundana


Nasihat Seorang Arab Kepada Putranya
(Ukht/ Nayifah Uwaimir)

Wahai puteraku …
Agar engkau menjadi seorang raja yang berwibawa di hadapan manusia ..
Janganlah berbicara dalam berbagai urusan ..
Kecuali setelah mengecek kebenaran sumbernya ..
Dan jika seseorang datang membawa berita, cari bukti kebenarannya sebelum dengan berani engkau berbicara ..
Hati-hati dengan isu .. jangan percayai setiap yang dikatakan, jangan pula percaya sesuatu yang setengah engkau lihat ..
Dan jika engkau mendapatkan cobaan berupa seorang musuh .. hadapi dengan berbuat baik kepadanya .. tolak dengan cara yang lebih baik, niscaya permusuhan itu berubah menjadi cinta kasih

Jika engkau hendak mengungkap kejujuran orang, ajaklah ia pergi bersama .. dalam bepergian itu jati diri manusia terungkap .. penampilan lahiriahnya akan luntur dan jatidirinya akan tersingkap! Dan “bepergian itu disebut safar karena berfungsi mengungkap yang tertutup, mengungkap akhlaq dan tabiat”.

Jika engkau diserang banyak orang sementara engkau berada di atas kebenaran .. atau jika engkau diserang dengan kritikan-kritikan buruk .. bergembiralah .. sebab mereka sebenarnya sedang berkata: “engkau orang yang sukses dan berpengaruh”, sebab,
• anjing yang mati tidak akan ditendang,
• dan tidak dilempar kecuali pohon yang berbuah

Wahai puteraku ..
Jika engkau hendak mengkritik, biasakan untuk melihat dengan mata tawon lebah .. dan jangan memandang orang lain dengan mata lalat, sebab engkau akan terjatuh kepada perkara yang busuk!

Tidurlah lebih awal wahai puteraku agar bisa bangun lebih awal .. sebab keberkahan ada di pagi hari, dan saya khawatir kehilangan kesempatan mendapatkan rizki Allah yang Maha Penyayang disebabkan engkau begadang di malam hari, sehingga tidak bisa bangun pagi!

Akan aku ceritakan kepadaku kisah seekor kambing dan serigala, supaya engkau aman dari orang yang berbuat makar ..
Dan saat seseorang memberikan tsiqah-nya kepadamu, jangan sampai engkau mengkhianatinya!
Akan aku ajak engkau ke sarang singa .. akan aku ajarkan bahwa singa itu tidak menjadi raja hutan dikarenakan aumannya!!
Akan tetapi, karena ia berjiwa tinggi! Tidak mau memakan hasil buruan binatang lain, betapapun ia lapar .. dan perutnya melilit-lilit .. jangan mencuri jerih payah orang lain .. sebab engkau menjadi keji!

Akan aku ajak engkau menemui bunglon .. agar engkau menyaksikan sendiri tipu dayanya! Bunglon merubah warna dirinya sesuai dengan tempat ia berada .. agar engkau mengetahui bahwa yang seperti bunglon itu banyak .. dan berulang-ulang! Dan bahwasanya ada orang-orang munafik .. banyak pula manusia yang berganti-ganti pakaian .. dan berlindung dibalik alasan “ingin berbuat baik”.

Wahai puteraku ..
Biasakan engkau bersyukur .. kepada Allah! Cukuplah menjadi alasan untuk bersyukur kepada-Nya bahwa engkau dapat berjalan, mendengar dan melihat!
Bersyukurlah kepada Allah, dan syukuri pula manusia .. sebab Allah SWT akan menambah orang-orang yang bersyukur
Dan manusia senang saat mendapati seseorang yang diberi sesuatu lalu orang itu menghargainya!

Wahai puteraku .. ketahuilah bahwa sifat utama yang paling agung dalam kehidupan ini adalah sifat jujur!
Dan bahwasanya kebohongan, meskipun tampak memberi keselamatan .. namun jujur lebih berakhlaq bagimu! Dan bagi orang sepertimu!

Wahai puteraku …
Persiapkan alternatif untuk segala urusan .. agar engkau tidak membuka jalan kehinaan!
Manfaatkan segala peluang .. sebab peluang yang datang sekarang .. bisa jadi tidak akan berulang!!

Jangan berkeluh kesah .. aku harap engkau optimis .. siap menghadapi kehidupan ..
Jauhilah orang-orang yang putus asa dan pesimis, lari dari mereka! Dan jangan sampai engkau duduk dengan seseorang yang selalu memandang sial kepada segala hal!!

Jangan bergembira saat melihat orang lain terkena musibah .. jangan pula menghina orang karena postur atau penampilannya ..
Sebab dia tidak menciptakan dirinya .. dan saat engkau menghina orang lain, pada hakekatnya engkau menghina ciptaan dari Dzat yang Maha Mencipta dan Membuat bentuk rupa

Jangan membuka aib orang, sebab Allah akan membuka aibmu di rumahmu .. sebab Allah-lah Dzat yang menutupi .. dan mencintai orang yang menutupi!
Jangan menzhalimi siapa pun .. dan jika engkau hendak menzhalimi dan engkau merasa mampu menzhalimi, ingatlah bahwa Allah SWT lebih mampu!

Jika engkau merasa hatimu mengeras, usaplah kepala anak yatim .. engkau akan terheran-heran .. bagaimana usapan itu dapat menghilangkan rasa keras hati dari hatimu, seakan hatimu menjadi pecah dan melunak!

Jangan mendebat .. dalam perdebatan .. kedua pihak merugi.
Kalau kita yang kalah, kita merugi telah kehilangan kebesaran kita, dan jika menang, kita juga merugi, telah kehilangan orang lain yang menjadi lawan debat kita .. semua kita kalah .. baik yang merasa menang .. dan yang merasa belum menang!

Jangan monopoli pendapat .. yang bagus adalah engkau mempengaruhi dan dipengaruhi!
Hanya saja, jangan larut dalam pendapat banyak orang .. dan jika engkau merasa bahwa pendapatmu benar .. tegarlah dan jangan terpengaruh!

Wahai puteraku ..
Engkau dapat merubah keyakinan orang .. dan menguasai hati mereka tanpa engkau sadari! Bukan dengan sihir, bukan pula dengan jampi .. namun, dengan senyumanmu .. dan kosa katamu yang lembut .. dengan keduanya, engkau dapat menyihir!!
Oleh karena itu, tersenyumlah .. maha suci Allah yang telah menjadikan senyuman sebagai ibadah dalam agama kita, dan kita mendapatkan pahala darinya!!

Di Cina .. jika engkau tidak murah senyum, mereka tidak akan berikan lisensi kepadamu untuk membuka kedai ..
Jika engkau tidak menemukan orang yang tersenyum kepadamu, tersenyumlah engkau kepadanya!
Jika bibirmu terbuka karena senyuman .. dengan cepat .. terbuka pula hati untuk mengekspresikan isinya

Jika orang meragukanmu, bela dirimu .. jelaskan .. dan beri keterangan pembenarannya!
Jangan suka nimbrung dan mengenduskan hidungmu dalam segala urusan .. jangan pula ikut-ikutan, berposisi bersama banyak orang saat mereka bersikap!!
Wahai puteraku .. jauhkan dirimu dari hal ini .. aku sangat tidak suka kalau melihatmu seperti ini!!

Jangan bersedih wahai puteraku terhadap apa yang terjadi dalam kehidupan! Sebab kita tidak diciptakan kecuali untuk diuji dan diberi cobaan .. sehingga Allah melihat kita .. adakah kita bersabar?
Karena itu .. santai saja .. jangan keruh hati! Yakinlah bahwa jalan keluar dekat ..
“jika mendung semakin hitam, pertanda, sebentar lagi hujan”!!

Jangan meratapi masa lalu, cukuplah bahwa ia telah berlalu .. sia-sia kalau kita memegang gergaji kayu, lalu menggergaji!!
Tataplah hari esok .. persiapkan diri .. dan singsingkan lengan baju untuk menghadapinya!!
Jadilah orang yang mulia .. berbanggalah dengan dirimu!
Sebagaimana engkau melihat dirimu, begitulah orang lain akan melihatmu ..
Jangan sekali-kali meremehkan dirimu!! Sebab engkau menjadi besar saat engkau ingin besar .. hanya engkau saja yang memutuskan ia menjadi kecil!

Yoyoh Yusroh
Komisi I DPR RI
Sent from my iPad


Copas dari: http://suwidadi.wordpress.com/2011/05/25/nasihat-untuk-sang-putera-dari-almh-yoyoh-yusroh-kpd-anaknya/
Selengkapnya >>>

Kamis, 24 November 2011

KISAH SEBUAH GUCI

Al-Imam Al-Bukhari dan Muslim meriwayatkan dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, dia berkata: Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda (yang artinya):

Ada seorang laki-laki membeli sebidang tanah dari seseorang. Yang ternyata di dalam tanah yang ia beli tersebut itu terdapat sebuah guci emas. Lalu berkatalah orang yang membeli tanah itu kepada sang penjual-nya:
“Ambillah emasmu, sebetulnya aku hanya membeli tanah darimu, bukan membeli emas.”

Si pemilik tanah berkata kepadanya: “Bahwasanya saya menjual tanah kepadamu berikut isinya.”

Karena masing-masing dari mereka tidak ada yang mau mengakui Guci emas tersebut, maka akhirnya keduanya pun menemui seseorang untuk menjadi hakim atas masalah yang mereka hadapi.

Kemudian berkatalah orang yang diangkat menjadi hakim tersebut: “Apakah kamu berdua mempunyai anak?”
Salah satu dari mereka berkata: “Na'am, Saya punya seorang anak laki-laki.”
Yang lain berkata: “Saya punya seorang anak perempuan.”

Lalu Sang hakim berkata: “Nikahkanlah mereka berdua dan berilah mereka belanja dari harta ini serta bersedekahlah kalian berdua.”

Ikhwan wa akhwat..
Sungguh, betapa indah kisah yang dikisahkan oleh Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam ini.

Di zaman yang kehidupan serba dinilai dengan materi dan keduniaan. Bahkan hubungan persaudaraan pun dibina di atas kebendaan.
Wallahul musta’an.

Didalam hadits ini, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam mengisahkan, transaksi yang mereka lakukan hanya berkaitan sebidang tanah. Si penjual merasa yakin bahwa isi tanah itu sudah termasuk dalam transaksi mereka. Sementara si pembeli berkeyakinan sebaliknya; isinya tidak termasuk dalam akad jual beli tersebut.

Kedua lelaki ini tetap bertahan, mereka lebih memilih sikap wara’ (berhati-hati), tidak mau mengambil dan membelanjakan harta itu, karena adanya kesamaran, apakah harta tersebut halal baginya ataukah haram?

Mereka juga tidak saling berlomba mendapatkan harta itu, bahkan terkesan menghindarinya.

Simaklah apa yang dikatakan si pembeli tanah: “Ambillah emasmu, sebetulnya aku hanya membeli tanah darimu, bukan membeli emas.”

Barangkali kalau kita yang mengalami, masing-masing akan berusaha cari pembenaran, bukti untuk menunjukkan dirinya lebih berhak terhadap emas tersebut.

Tetapi bukan itu yang hendak di sampaikan melalui kisah ini.

Hadits ini menerangkan ketinggian sikap amanah mereka dan tidak adanya keinginan mereka mengaku-aku sesuatu yang bukan haknya. Juga sikap jujur serta wara’ mereka terhadap dunia, tidak berambisi untuk mengangkangi hak yang belum jelas siapa pemiliknya.

Kemudian muamalah mereka yang baik, bukan hanya akhirnya menimbulkan kasih sayang sesama mereka, tetapi menumbuhkan ikatan baru berupa perbesanan, dengan disatukannya mereka melalui pernikahan putra putri mereka. Bahkan, harta tersebut tidak pula keluar dari keluarga besar mereka. Allahu Akbar.

Bandingkan dengan keadaan sebagian kita di zaman ini, sampai terucap dari mereka: “Mencari yang haram saja sulit, apalagi yang halal?” Subhanallah...

Kemudian, mari perhatikan sabda Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam hadits An-Nu’man bin Basyir radhiyallahu ‘anhuma:
“Siapa yang terjatuh ke dalam syubhat (perkara yang samar) berarti dia jatuh ke dalam perkara yang haram.”

Sementara kebanyakan kita, menganggap ringan perkara syubhat ini.
Padahal Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam menyatakan, bahwa siapa yang jatuh ke dalam perkara yang samar itu, bisa jadi dia jatuh ke dalam perkara yang haram. Orang yang jatuh dalam hal-hal yang meragukan, berani dan tidak memedulikannya, hampir-hampir dia mendekati dan berani pula terhadap perkara yang diharamkan lalu jatuh ke dalamnya.

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam sudah menjelaskan pula dalam sabdanya yang lain:
“Tinggalkan apa yang meragukanmu, kepada apa yang tidak meragukanmu.”

Yakni tinggalkanlah apa yang engkau ragu tentangnya, kepada sesuatu yang meyakinkanmu dan kamu tahu bahwa itu tidak mengandung kesamaran.
Sedangkan harta yang haram hanya akan menghilangkan berkah, mengundang kemurkaan Allah Subhanahu wa Ta’ala, menghalangi terkabulnya doa dan membawa seseorang menuju neraka jahannam.

Tidak, ini bukan dongeng pengantar tidur...

Inilah kisah nyata yang diceritakan oleh Ash-Shadiqul Mashduq (yang benar lagi dibenarkan) Shallallahu ‘alaihi wa sallam, yang Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman tentang beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam:

“Dan tiadalah yang diucapkannya itu (Al-Qur’an) menurut kemauan hawa nafsunya. Ucapannya itu tiada lain hanyalah wahyu yang diwahyukan (kepadanya).” (An-Najm: 3-4)

Kedua lelaki itu menjauh dari harta tersebut sampai akhirnya mereka datang kepada seseorang untuk menjadi hakim yang memutuskan perkara mereka berdua.

Menurut sebagian ulama, zhahirnya lelaki itu bukanlah hakim, tapi mereka berdua memintanya memutuskan persoalan di antara mereka.

Dengan keshalihan kedua lelaki tersebut, keduanya lalu pergi menemui seorang yang berilmu di antara ulama mereka agar memutuskan perkara yang sedang mereka hadapi. Adapun argumentasi si penjual, bahwa dia menjual tanah dan apa yang ada di dalamnya, sehingga emas itu bukan miliknya. Sementara si pembeli beralasan, bahwa dia hanya membeli tanah, bukan emas.

Akan tetapi, rasa takut kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala membuat mereka berdua merasa tidak butuh kepada harta yang meragukan tersebut.

Kemudian, datanglah keputusan yang membuat lega semua pihak, yaitu pernikahan anak laki-laki salah seorang dari mereka dengan anak perempuan pihak lainnya, memberi belanja keluarga baru itu dengan harta temuan tersebut, sehingga menguatkan persaudaraan imaniah di antara dua keluarga yang shalih ini.

Perhatikan pula kejujuran dan sikap wara’ sang hakim. Dia putuskan persoalan keduanya tanpa merugikan pihak yang lain dan tidak mengambil keuntungan apapun. Seandainya hakimnya tidak jujur atau tamak, tentu akan mengupayakan keputusan yang menyebabkan harta itu lepas dari tangan mereka dan jatuh ke tangannya.

Pelajaran yang kita ambil dari kisah ini adalah sekelumit tentang sikap amanah dan kejujuran serta wara’ yang sudah langka di zaman kita.

Demikianlah cara pandang orang-orang shalih terhadap dunia ini. Adakah diantara kita yang mau yang mengambil pelajaran?

Semoga hal ini bermanfaat bagi kita semua dalam bermu'amalah..
Wallahul Muwaffiq.
Selengkapnya >>>

Rabu, 05 Oktober 2011


copas dari grup tetangga ^_^

Rindu Qur'an


Resume Taujihat  Ust. Mutamimul Ula
Tokyo - Meguro - Japan

Oleh: RATIH FITRIA PUTRI
Tilawah : QS 31 : 12 -16
Dan sesungguhnya telah Kami berikan hikmah kepada Lukman, yaitu: "Bersyukurlah kepada Allah. Dan barang siapa yang bersyukur (kepada Allah), maka sesungguhnya ia bersyukur untuk dirinya sendiri; dan barang siapa yang tidak bersyukur, maka sesungguhnya Allah Maha Kaya lagi Maha Terpuji". Dan (ingatlah) ketika Lukman berkata kepada anaknya, di waktu ia memberi pelajaran kepadanya: "Hai anakku, janganlah kamu mempersekutukan (Allah) sesungguhnya mempersekutukan (Allah) adalah benar-benar kelaliman yang besar". Dan Kami perintahkan kepada manusia (berbuat baik) kepada dua orang ibu-bapaknya; ibunya telah mengandungnya dalam keadaan lemah yang bertambah-tambah, dan menyapihnya dalam dua tahun. Bersyukurlah kepada-Ku dan kepada dua orang ibu bapakmu, hanya kepada-Kulah kembalimu. Dan jika keduanya memaksamu untuk mempersekutukan dengan Aku sesuatu yang tidak ada pengetahuanmu tentang itu, maka janganlah kamu mengikuti keduanya, dan pergaulilah keduanya di dunia dengan baik, dan ikutilah jalan orang yang kembali kepada-Ku, kemudian hanya kepada-Kulah kembalimu, maka Ku-beritakan kepadamu apa yang telah kamu kerjakan. (Lukman berkata): "Hai anakku, sesungguhnya jika ada (sesuatu perbuatan) seberat biji sawi, dan berada dalam batu atau di langit atau di dalam bumi, niscaya Allah akan mendatangkannya (membalasinya). Sesungguhnya Allah Maha Halus lagi Maha Mengetahui.”

TEMA :
Kita sebagai ummat muslim harus meningkatkan perasaan rindu terhadap Al Qur’an. Dengan peningkatan rasa rindu terhadap Al Qur’an maka akan meningkatkan rasa rindu kita untuk berkarya terhadap lingkungan kita (Ibu, Bapak, Anak dan Keluarga serta Masyarakat).
Ada 3 pertanyaan yang mendasari terhadap SYU’UR QUR’AN (Kerinduan Terhadap Al Qur’an):
1.     Mengapa kita harus terus menerus meningkatkan syu’ur Qur’an (perasaan rindu terhadap Al Qur’an)
2.     Apa indicator kita untuk mengukur perasaan kerinduan kita terhadap Al Qur’an
3.     Bagaimana caranya kita meningkatkan kerinduan kepada Al Qur’an
I.   URGENSI MENINGKATKAN PERASAAN RINDU TERHADAP AL QUR’AN
1.     Alasan tuntutan dakwah
Kita memerlukan energy yang besar dalam berdakwah, dan salah satu sumber energy yang tidak habis adalah bersumber pada Al Qur’an. Dengan adanya rasa rindu kita kepada Al Qur’an menjadi sarana kita untuk mengisi energy kembali untuk melanjutkan perjuangan dakwah. Manhaj dakwah kita 2004 yakni salah satu criteria para aktivis dakwah adalah memiliki kemampuan berbahasa Arab dan dalam hal berinteraksi dengan Al Qur’an. Ada 6 muwashofat yang dicanangkan pada Manhaj Dakwah 2004.
1.     Membaca Al Qur’an dengan AHKAMnya, yakni membaca Al Qur’an sesuai dengan hukumnya (TAJWID & TAHSIN).          
2.     Kemampuan Kader dalam membaca Al Qur’an satu juz perhari dan menguasai maknanya.
3.     Memiliki hafalan dengan target setiap kader 7 juz.
4.     Hafalan dan Ilmu terkait dengan interaksi Al Qur’an yang dimiliki oleh setiap kader diharapkan dapat diaplikasikan sesuai dengan keahlian kader, misal: seorang astronom menggunakan landasan QS Yusuf : 5-6
5.     Memilikinya “KEKOKOHAN KADER” dalam beragumentasi dilandaskan dengan adanya kader yang memiliki hafalan Al Qur’an dan Hadits yang shohih. Ciri orang yang berilmu jika ditanyakan sesutau maka ia akan menjawab.
Landasan kesungguhan kader menuntut Ilmu yakni QS AL MUJADILLAH : 11
Hai orang-orang yang beriman, apabila dikatakan kepadamu: "Berlapang-lapanglah dalam majelis", maka lapangkanlah, niscaya Allah akan memberi kelapangan untukmu. Dan apabila dikatakan: "Berdirilah kamu, maka berdirilah, niscaya Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman di antaramu dan orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan beberapa derajat. Dan Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan.
Keluarga Kader PK Sejahtera dituntut mampu menjadi teladan dan dapat memainkan peran aktif dalam perbaikan masyarakat, oleh karena itu harus ada panduan bagi keluarga kader agar mampu mengatasi problematika internal yang disebabkan oleh kurangnya kompetensi berkeluarga.
  1. Basis penegakkan nilai-nilai Islam artinya adalah, keluarga tersebut ditegakkan di atas nilai-nilai Islam dimana keluarga tersebut juga melahirkan individu yang berkomitmen menjalankan nilai-nilai Islam dalam kehidupannya di masyarakat dan memiliki kepedulian untuk mengajak orang lain menerapkan nilai-nilai Islam dalam kehidupan bermasyarakat
  2. Nilai-nilai Islam adalah nilai-nilai yang mencakup aqidah, syariah dan akhlaq Islam.
  3. Kompetensi adalah pengetahuan, keterampilan dan sikap mental yang harus dimiliki oleh setiap kader
   Kewajiban kita terhadap AL Qur’an:                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                               
1.     Meyakini kebenaran Al Qur’an.
2.     Membacanya terus menerus (dalam hal ini kita dianjurkkan menghafal Al Qur’an)
3.     Melaksanakan segala amalan yang diperintahkan dalam Al Qur’an.
4.     Menyebarkannya melalui dakwah.
II.      INDIKATOR PERASAAN KERINDUAN TERHADAP AL QUR’AN
a.       Apakah kita sudah membayangkan tentang apa saja yang akan terjadi ketika hari kiamat itu terjadi? Sudahkan kita memikirkan perasaan kita terhadap kepedihan siksa kubur dan sakaratul maut? Sudahkah ada dihati kita membayangkan kepedihan ketika berkumpul di padang masyar dan saat yaumul hisab?
 LANDASAN  SYAR’I:
QS 75 : 1-21
Aku bersumpah dengan hari kiamat, dan aku bersumpah dengan jiwa yang amat menyesali (dirinya sendiri). Apakah manusia mengira, bahwa kami tidak akan mengumpulkan (kembali) tulang belulangnya? Bukan demikian, sebenarnya Kami kuasa menyusun (kembali) jari jemarinya dengan sempurna. Bahkan manusia itu hendak membuat maksiat terus menerus. Ia bertanya: "Bilakah hari kiamat itu?" Maka apabila mata terbelalak (ketakutan), dan apabila bulan telah hilang cahayanya, dan matahari dan bulan dikumpulkan, pada hari itu manusia berkata: "Ke mana tempat lari?" Sekali-kali tidak! Tidak ada tempat berlindung!,  Hanya kepada Tuhanmu sajalah pada hari itu tempat kembali. Pada hari itu diberitakan kepada manusia apa yang telah dikerjakannya dan apa yang dilalaikannya. Bahkan manusia itu menjadi saksi atas dirinya sendiri, meskipun dia mengemukakan alasan-alasannya. Janganlah kamu gerakkan lidahmu untuk (membaca) Al Qur'an karena hendak cepat-cepat (menguasai) nya. Sesungguhnya atas tanggungan Kami-lah mengumpulkannya (di dadamu) dan (membuatmu pandai) membacanya. Apabila Kami telah selesai membacakannya maka ikutilah bacaannya itu.  Kemudian, sesungguhnya atas tanggungan Kami-lah penjelasannya. Sekali-kali janganlah demikian. Sebenarnya kamu (hai manusia) mencintai kehidupan dunia, dan meninggalkan (kehidupan) akhirat.”
 QS 80 : 33-42
Dan apabila datang suara yang memekakkan (tiupan sangkakala yang kedua), pada hari ketika manusia lari dari saudaranya, dari ibu dan bapaknya, Setiap orang dari mereka pada hari itu mempunyai urusan yang cukup menyibukkannya. Banyak muka pada hari itu berseri-seri, tertawa dan gembira ria, dan banyak (pula) muka pada hari itu tertutup debu, dan ditutup lagi oleh kegelapan. Mereka itulah orang-orang kafir lagi durhaka.” (QS 8 0: 33-42)
Rasa–rasa kepedihan ini tidak ada satu pun yang dapat menyelamatkan kecuali dengan adanya syafa’at, dan salah satunya yakni bagi yang sering berinteraksi dengan Al Qur’an maka saat di akhirat mendapatkan syafa’at lindungan dari api neraka.
b.        Apakah di hati kita sudah timbul perasaan iri kepada orang yang memiliki “intensitas terhadap interaksi terhadap Al Qur’an” lebih baik daripada kita?
Kita tidak boleh memiliki hasad terhadap hal duniawi (misal: Harta, pangkat dan jabatan), TAPI kita diperbolehkan untuk memiliki rasa hasad/iri hati dalam hal kebaikan (misal: mennginginkan untuk dapat melakukan amalan ibadah seperti orang lain yang lebih dari kita)
c.         Apakah kita sudah memiliki rasa “sedih” jika suatu hari kita tidak sempat membaca Al Qur’an?
Dalam hal ini berkaitan dengan urgensi “KEIMANAN”. Bagaimana kita dihadapkan dalam berbagai pilihan dalam kehidupan sehari-hari, misalnya saat ada taklimat untuk hadir Jalasah Ruhiyah, apakah kita memilih untuk hadir atau lebih memilih pada hal keduniawian?? ^__^
“Pada suatu hari kami (Umar Ra dan para sahabat Ra) duduk-duduk bersama Rasulullah Saw. Lalu muncul di hadapan kami seorang yang berpakaian putih. Rambutnya hitam sekali dan tidak tampak tanda-tanda perjalanan. Tidak seorangpun dari kami yang mengenalnya. Dia langsung duduk menghadap Rasulullah Saw. Kedua kakinya menghempit kedua kaki Rasulullah, dari kedua telapak tangannya diletakkan di atas paha Rasulullah Saw, seraya berkata, "Ya Muhammad, beritahu aku tentang Islam." Lalu Rasulullah Saw menjawab, "Islam ialah bersyahadat bahwa tidak ada tuhan kecuali Allah dan Muhammad Rasulullah, mendirikan shalat, menunaikan zakat, puasa Ramadhan, dan mengerjakan haji apabila mampu." Kemudian dia bertanya lagi, "Kini beritahu aku tentang Iman." Rasulullah Saw menjawab, "Beriman kepada Allah, malaikat-malaikat-Nya, kitab-kitab-Nya, rasul-rasul-Nya, hari akhir dan beriman kepada Qodar baik dan buruknya." Orang itu lantas berkata, "Benar. Kini beritahu aku tentang ihsan." Rasulullah berkata, "Beribadah kepada Allah seolah-olah anda melihat-Nya walaupun anda tidak melihat-Nya, karena sesungguhnya Allah melihat anda. Dia bertanya lagi, "Beritahu aku tentang Assa'ah (azab kiamat)." Rasulullah menjawab, "Yang ditanya tidak lebih tahu dari yang bertanya." Kemudian dia bertanya lagi, "Beritahu aku tentang tanda-tandanya." Rasulullah menjawab, "Seorang budak wanita melahirkan nyonya besarnya. Orang-orang tanpa sandal, setengah telanjang, melarat dan penggembala unta masing-masing berlomba membangun gedung-gedung bertingkat." Kemudian orang itu pergi menghilang dari pandangan mata. Lalu Rasulullah Saw bertanya kepada Umar, "Hai Umar, tahukah kamu siapa orang yang bertanya tadi?" Lalu aku (Umar) menjawab, "Allah dan rasul-Nya lebih mengetahui." Rasulullah Saw lantas berkata, "Itulah Jibril datang untuk mengajarkan agama kepada kalian." (HR. Muslim)
Apakah kita pernah menghitung berapa banyak informasi kita tentang Al Qur’an jika dibandingkan dengan informasi keduniaan yang selalu bersemayam di Otak kita???
III.     BAGAIMANA CARA KITA MENINGKATKAN RASA KERINDUAN TERHADAP AL QUR’AN
                                    
a.     Dimulai dari diri pribadi sendiri, yakni membiasakan untuk mempelajari Al Qur’an dan Hadist dan belajar bahasa Arab. Setiap orang memiliki waktu 24 Jam namun “PRESTASI” interaksi terhadap Al Qur’an setiap individu berbeda-beda.
b.     Manfaatkan semua momentum untuk membaca, memaknai, menghafalkannya dan mengamalkannya.
c.      Memberikan Qudwah atau mencotohkan kebaikan kepada orang lain untuk mencintai Al Qur’an, karena bahasa keteladanan lebih baik dan efektif jika dibandingkan dengan bahasa perintah. Mengajarkan Al Qur’an baik dengan mengenalkan huruf maupun tasmi’ Qur’an (yakni mengajarkan huruf Al Qur’an dan mengajarkan apa yang terkandung didalam Al Qur’an).
d.     Membentuk bi’ah (lingkungan) yang cinta terhadap Al Qur’an.
e.      Memberikan nasihat-nasihat tentang keutaman-keutaman Al Qur’an.
f.       Membiasakan segala hal dalam lingkungan yang menjungjung tinggi “kebaikan”. Kebaikan menjadi landasan utama dalam beramal.
g.     Reward dan Punishment terhadap amalan harian yang telah kita mutaba’ah.
h.     Berdo’a dengan tiada terputus mengaharapkan anugrah kenikmatan dalam beribahah, nikmat iman, islam dan ihsan.
Catatan Khusus:
Pengalaman ustadz untuk mengajarkan anak-anaknya selalu dalam berada lingkungan yang cinta dengan Al Qur’an. Ustadz lebih mengutamakan anak-anaknya untuk belajar di lingkungan pesantren. Sehingga mereka mencintai juga bahasa arab dan mudah untuk menghafal Al Qur’an. Mahir berbahasa arab sangat membantu kita untuk menghafal Al Qur’an.
SETIAP ORANG TUA PASTI MENGINGINKAN ANAK-ANAKNYA MENJADI LEBIH BAIK DARI DIRINYA (BAIK DARI SEGI AGAMA MAUPUN HAL LAINNYA)… BINALAH ANAK-ANAK KITA UNTUK SELALU MENCINTAI AL QUR’AN….
Wallahu’alambishowab….
Barakallahu fiik….
Semoga Bermanfa’at… Amiin yaa Rabb…
Tokyo, 28 Ramadhan 1431 H
*Catatan Kecil Bagian ke-2 Seri Ramadhan: “ratih_nabila on Web PIP  Jepang”
Selengkapnya >>>

Kamis, 29 September 2011

dikutip dari situs islamedia.web.id
http://t3.gstatic.com/images?q=tbn:ANd9GcQRr_jstXLqhYyBUjC3IqijIg66KEeZZvBe3LkIZf-qfxntehP5F_frL6E
Islamedia - Saat menonton film Mohammad Messenger of God (Ar-Risalah) jaman SD tahun 80-an, aku terpesona dengan sosok Hamzah, si singa Allah. Di mataku, dia begitu hebat, proses inqilabnya subhanallah, hingga dia menemui ajalnya di ujung tombak Wahsyi, si budak hitam legam suruhan Hindun. Ya. Hamzah, hidupnya singkat, tapi sangat bermakna.
Dalam film epik yang mendapat banyak penghargaan itu, Nabi Saw yang hanya digambarkan secara imajiner dengan jalannya kamera seolah begitu hidup karena peran Hamzah yang 'berdialog' pada Nabi Saw. Penonton jadi bisa membayangkan apa yang kira-kira Nabi Saw katakan. Masih kuingat di film itu, adegan saat Hamzah (sebagai paman Nabi) berbicara agak keras pada Nabi Saw (yang notabene ponakannya), lalu diingatkan dengan ayat agar tidak berbicara dengan nada keras pada Nabi Saw (surat Hujurat ayat 2). Hamzah langsung duduk lemas lunglai, dan meminta maaf pada Nabi Saw. Memang ini bukan tentang asbabun nuzul ayat tersebut, dan aku juga tak tahu persis apakah Hamzah sendiri masih hidup saat ayat tersebut diturunkan. Tapi, penggambaran dialog Hamzah dengan Nabi Saw di film itu, benar-benar mengesankan.
Juga masih kuingat adegan sesaat Hamzah memutuskan untuk memeluk Islam, dengan gagah beraninya dia membalas penghinaan Abu Jahal dan kelompoknya, yang telah berani menghina ponakannya. Ia lepaskan anak panah dari busur kesayangannya pada Abu Jahal, sembari berkata, "Mengapa kamu memaki dan mencederai Muhammad, padahal aku telah menganut agamanya dan meyakini apa yang dikatakannya? Nah sekarang, coba ulangi kembali makian dan cercaan mu itu kepadaku jika kamu berani!"
Setelah itu, dia juga digambarkan pergi berhijrah dengan memberikan pengumuan terbuka pada para pemuka Quraisy. Benar-benar bahasa seorang muslim yang memiliki izzah :)
Lalu, aku begitu penasaran, siapa sesungguhnya sosok pemeran Hamzah yang heroik di fim itu? Hingga bertahun-tahun kemudian saat aku menginjak bangku SMA, baru aku tahu jawabnya. Bahwa Hamzah di fim tersebut diperankan oleh Anthony Quinn, aktor gaek yang sukses memerankan berbagai lakon dalam film epik sejarah.
Ah, masih kuingat juga bagaimana ‘simbah’ Anthony (alm) ini memerankan dengan sangat apik tokoh Omar Mochtar, pemimpin perjuangan rakyat di Aljazair saat pendudukan Perancis, dalam film Lion on the Desert. Seolah-olah tokoh Omar Mochtar begitu hidup dalam imajinasiku. Film itu, sebagaimana film Mohammad Messsenger of God,  mampu menjadi sumber ilham buatku untuk menuliskan beberapa bait puisi tentang kepahlawanan. Anthony memang benar-benar berbakat sebagai seorang aktor.
Tapi, saat aku juga tahu bagaimana sontoloyo-nya kehidupan pribadinya, jatuh dari pelukan perempuan yang satu ke perempuan yang lain, play boy kelas kakap layaknya artis Hollywood, mendadak jadi agak ilfil juga. Tiba-tiba jadi sangat menyayangkan, orang dengan prestasi sebaik itu, ternyata kehidupan pribadinya jauh dari yang ia perankan dalam film. Hmmm.
Perasaan ilfil ini persis sama saat dulu jaman SMA aku begitu menyukai lagu Nikita dan Sacrifice-nya Elton John. Liriknya mantap, melodinya juga enak. Tak bosan-bosan kuputar ulang lagu itu, sampai kemudian aku tahu bagaimana kehidupan pribadi dari Elton John sendiri. Seorang homo, yang hingga mengumumkan pernikahannya (dengan sesama pria) ke seluruh penjuru dunia. Hoek, jadi ilfil banget. Padahal sudah terlanjur suka dengan lagu gubahannya, mendadak jadi kurang suka.
Allahu, berkaca dari diriku sendiri, ternyata sangat tidak mudah untuk mengaplikasikan ucapan Ali RA: Undzur maa qoola wa laa tandzur man qoola (Perhatikan apa yang dia ucapkan, jangan perhatikan siapa yang mengucapkan). Bagaimana pun, seseorang tetap akan melihat figur siapa dia, bagaimana kesehariannya, meskipun ucapannya mempesona, meskipun prestasinya membuat decak kagum orang-orang sekitarnya.
Astaghfirulah, sungguh aku harus terus berkaca diri, saat perilaku keseharianku (sering) tak sesuai dengan ucapan atau prestasi yang diketahui banyak orang. Kadang juga berpikir, andai semua orang tahu bagaimana sikap keseharianku dan jati diriku, apakah mereka masih mau menjadi temanku? Mereka selama ini mungkin hanya tahu sisi ‘terang’ku saja. Bagaimana jika mereka semua tahu sisi ‘gelap’ku, dosa-dosaku? Apakah mereka masih akan berdecak kagum dengan segelintir prestasiku, yang sebenarnya juga mampu diraih oleh siapapun? Ataukah mereka akan pergi meninggalkanku sambil mencibir, mengolok-olok, atau sumpah serapah karena tahu borok-borok kehidupanku?


Astagfirullah. Sementara jelas sekali Quran mewasiatkan: Hai orang-orang beriman, mengapa kamu mengatakan apa-apa yang tidak kamu lakukan? Amat besar kebencian Alah jika kamu mengatakan apa-apa yang tidak kamu lakukan” (As Shaf ayat 2-3)
Rabbi, jagalah diriku. Sungguh aku bukan orang suci bersih tanpa noda, tapi aku ini hanya jelaga yang menghitam dengan tebalnya. Sungguh aku berharap ampunan-Mu, agar jelaga hitam itu sedikit demi sedikit dapat kugosok, hingga ia kembali ke warna aslinya, hingga nanti dapat kukembalikan sebagaimana saat raga dan jiwa ini Kau pinjamkan: putih bersinar.
Rabbi, kumohon pagarilah langkahku.
Allahumma arinal haqqo haqqon, warzuqnat tiba’ah
Wa arinal bathila bathilan, warzuqnaj tinaabah.

Mukti Amini


Pamulang, 27 September 2011
*saat merasa terpuruk dengan sikap keseharian
Selengkapnya >>>

Rabu, 20 Juli 2011

oleh: Prof. Dr. Irwan Prayitno

sumber: harian Haluan


Siapa yang tak kenal Har­vard University, Stanford University, Cornell Uni­versity, Berkeley University dan Massachusetts Ins­titute of Technology (MIT)?  Itu adalah nama-nama perguruan tinggi yang hampir selalu me­nem­pati posisi 10 per­guruan tinggi terbaik di dunia. Tokoh-tokoh penting dunia seperti  Presiden AS Barack Obama, Bill Clinton dan sejumlah tokoh legendaris dunia lainnya ‘dilahirkan’ dari universitas ini.
Berbagai penemuan dan teknologi baru yang menggemparkan dunia juga berasal dari perguruan tinggi yang umumnya didirikan di abad-18 ini. Sistem pendidikan dan berbagai sarana pendukung yang tersedia membuat universitas-universitas tersebut mampu meng­hasilkan lulusan  berkelas dunia.
Kita boleh bangga memiliki perguruan tinggi terbaik di negeri ini seperti Institut  Teknologi Bandung (ITB), Universitas Indonesia (UI) atau Institut Pertanian Bogor (IPB). Perguruan tinggi ini juga terkenal telah melahirkan tokoh-tokoh berkaliber nasional di Indonesia. Namun dalam kacamata Internasional, perguruan tinggi tersebut belum termasuk rangking 200 terbaik di dunia. Universitas Indonesia berada pada dan berada di ranking 236 dunia (World Universities Ranking 2011) atau ranking 50 di Asia (Asian Ranking Universities 2011)

Selengkapnya >>>

Kamis, 30 Juni 2011

WAKTU YANG TEPAT

Berikut sebuah pesan singkat yang mulai beredar dikalangan Mahasiswa Akhir Tahun.
“Untuk diRenungkan”
Setidaknya satu lembar setiap malam. Renungkan dan mulailah menuliskannya. Bukankah janji kita ingin menjadi SARJANA? Jangan sampai membuat mereka meneteskan air mata. Bukankah harapan mereka tidak mengada-ada? Hanya ingin melihat kita menjadi SARJANA! Baju Toga itu, mengeringkan semua keringat mereka, menghapus air mata mereka. Meski itu tidak cukup untuk membayar semua pengorbanan mereka. Namun  dengan itu kita dapat membuat mereka tersenyum bangga. Bukan emas dan permata sebagai bentuk balas jasa. Hanya kata sederhana SARJANA!

Lupakah kita waktu mereka mengantarkan ke kota. Mereka pulang lalu bercerita pada siapa saja yang ditemuinya bahwa anak mereka sekarang kuliah dan jadi calon SARJANA. Mereka lalu menjual apapun yang ada, mereka mulai menghemat uang belanja, memberikan yang terbaik buat ANAKNYA. Hanya untuk menjadi SARJANA.
LUPAKAH KITA?
Tersindir rasanya ketika membaca kalimat panjang yang dikirim seorang sahabat. Sedih dan kecewa kepada diri sendiri. Berurai air mata ini. Mulai teringat lagi ketika awal mejadi mahasiswa. Apa yang salah? Dimana yang tidak benar dan Bagaimana seharusnya?
Tahun ini, berat. Sangat berat malah. Semuanya mulai terasa menjadi prioritas. KULIAH, PENELITIAN, PROPOSAL dan TUGAS AKHIR. Mulai membiasakan telinga, hati dan pikiran dengan kata-kata yang terangkai dalam kalimat-kalimat yang terasa sangat menusuk di kalbu. Tapi memang itulah nyatanya.
Menahan rindu untuk pulang ke Kampung Halaman, menghindari hadir didepan teman-teman sesering mungkin, dan membatasi segala komunikasi yang diprediksi akan menimbulkan berbagai pertanyaan seperti : Kapan Wisuda? Sudah Proposalkah? Bagaimana penelitian? Apa judul Tugas Akhir? Sudah sampai dimana Tugas Akhirnya? Hmm… Kasihan kepada perasaan sendiri. SEDIH. Berusaha kembali menguatkan hati.
Muncul rasa iri dan cemburu melihat teman-teman yang dengan begitu lancarnya menyelesaikan Tugas Akhirnya. Dan bertanya seraya menyalahkan diri sendiri “MENGAPA BUKAN AKU????”. Muncul pikiran-pikiran buruk dan tidak sepantasnya di pikiran ini. Mulai meragukan teman-teman yang telah melangkah lebih dulu. Menjaga jarak dan silaturrahmi. Menggangap nasihat mereka sebagai sikap yang menggurui dan salah.
Menata kembali hati, pikiran dan langkah-langkah menjadi SARJANA. Merenung. Tidak ada yang salah sebenarnya. Hanya kita yang belum maksimal dan mendapatkan batu sandungan disetiap langkah kita. Semoga saja benar.
Teringat masa-masa yang telah terlewatkan. Membagi waktu dan pikiran di dunia yang berbeda. KULIAH dan ORGNISASI. Rasanya tidak ada yang tersia-siakan. Semua sudah pas pada porsinya. Hmm, entahlah. Mungkin ada beberapa waktu yang tersita untuk organisasi. Mungkin pikiran yang mulai merasakan bosan untuk kuliah sementara organisasi memberikan pengalaman baru yang memiliki pesona berbeda. Mungkin. Sebenarnya bukan mungkin. Tapi memang seperti itu nyatanya.
Teringat lagi masa-masa sebelumnya. Pesan dan nasehat ayah-bunda sebelum beranjak untuk menuntut ilmu. “Belajar yang serius anakku. Belajar yang rajin. Jangan tinggalkan sholat dan selalu berdoa serta membaca Alquran. Bergaul dengan teman yang baik dan sesuai. Ayah-bunda percaya padamu. Kebebasan yang diberikan, karena memang kamu sudah dewasa. Jadi bertanggungjawablah”. Pesan yang dahulu terasa hanya biasa saja kini mulai memiliki makna yang berbeda. Seperti sebuah amanah yang amat berharga.
Ayah-bunda, sebenarnya ananda kuliah dengan seperti yang ada. Belajar dengan semestinya, serta berdoa dan menjalankan pesan-pesan itu. Tapi,, Ayah-bunda ananda juga ikut di suatu organisasi. Rasanya inilah yang ananda ingini selain hanya kuliah saja. Organisasi sebagai Tempat ananda mengasah rasa peka dan peduli, memunculkan pemikiran-pemikiran kretif dan inovatif, mengembangkan diri serta menambah ilmu yang tidak diberikan di bangku kuliah. Organisasi tempat ananda menemukan keluarga baru. Tempat ananda berkeluh-kesah dan berbagi semuanya, ada suka, duka dan ada cerita. Organisasilah tempat ananda melampiaskan rasa rindu, ketika rindu kepada Ayah-bunda tidak bisa ditahan lagi.
Ayah-bunda, memang pikiran ananda terbagi. Memikirkan kuliah juga memuikirkan hal yang lainnya. Tapi sudah sepantasnya ananda memikirkan ini. Memikirkan kita, orang lain dan bangsa ini. Memang terdengar lucu. Memikirkan bangsa?? Tapi memang begitulah ananda saat ini. Meskipun belum memberikan perubahan besar buat bangsa ini. Tapi, Ayah-bunda, ananda belajar peduli, merasakan dan mencari solusi untuk permasalahan orang lain.
Ayah-bunda, terkadang waktu, uang dan kesempatan yang ada juga ananda bagi. Bolos kuliah, yang bukan hanya sekali. Tapi berkali-kali. Bukan karena malas, Ayah-bunda. Tapi karena ada hal lain yang mesti dikorbankan untuk diri ini dan orang lain. Menyisihkan uang yang Ayah-bunda kirimkan bahkan terkadang membuang kesempatan yang ada demi hal ini. Maafkan ananda, Ayah-bunda. Bukan tidak menghargai atau menghormati Ayah-bunda. Bukan menyia-nyiakan kepercayaan Ayah-bunda. Tapi inilah yang ananda butuhkan dan inilah kewajiban ananda sebagai manusia dan generasi muda bangsa ini.
Ayah-bunda tahu ananda bukan anak yang bodoh, nakal, apalagi durhaka. Butuh waktu lama untuk wisuda bukan karena ananda tidak serius atau bermain-main. Rasanya ada hal yang harus dan menjadi kewajiban bagi ananda untuk melaksanakannya. Untuk membagi pikiran dan waktu ananda. Ananda berharap Ayah-bunda mengerti dan memahami. Setiap pertanyaan Ayah-bunda mengenai kuliah ananda jawab sebagaimana adanya. Beginilah kondisinya.
Ayah-bunda, ananda punya banyak cerita mengenai keluarga baru ananda (organisasi) yang tidak tahan rasanya ingin ananda ceritakan. Tapi sedikit kecewa ketika Ayah-bunda menanggapinya biasa-biasa saja. Ananda punya teman, pernah bertemu dengan orang hebat dan sukses, pernah kesana-kesini, pernah mengangkatkan berbagai acara, dan pernah melakukan berbagai hal yang orang lain tidak melakukannya. Bahkan mereka tidak punya kesempatan untuk itu. Ananda tidak pernah menyesal, Ayah-bunda. Membayar cukup setimpal untuk mendapatkan pengalaman-pengalaman ini. Sama sekali tidak pernah menyesal. Tapi ananda takut, Ayah-bunda tidak lagi percaya. Kecewa dan sedih. Itu yang ananda takutkan.
Percayakah Ayah-bunda, setiap hari ananda merenungkan ini. Setiap kali Ayah-bunda menelpon ananda menangis sesudahnya. Setiap malam mengejar ketinggalan-ketinggalan ananda selama kuliah ini. Jika ada matakuliah yang nilainya rendah, bukan karena ananda bodoh atau malas. Tapi karena ananda melebihi batas absen dan tidak boleh ujian. Ananda ingin menjelaskan. Ananda ingin Ayah-bunda mendengarkan. Cukup itu. Cukup Ayah-bunda percaya bahwa apa yang ananda lakukan itu benar. Dan memang itulah yang harusnya nanda lakukan.
Maafkanlah ananda, Ayah-bunda. Ampuni ananda. Tidak ada niat terlintas sedikitpun untuk membuat kecewa, sedih apalagi marah. Sekarang ananda sedang berjuang. Berjuang mendapatkan apa yang sama-sama kita cita-citakan. Doakan ananda, Ayah-bunda. Terimakasih buat semuanya. Terimakasih sebesar-besarnya. Ananda tahu tak akan sanggup membalasnya.


Didedikasikan : untuk Saudara/I ku. Kita masih berjuang dan perjuangan ini belum selesai. Sama sekali kita belum melakukan apa-apa untuk diri kita, orang tua kita, bangsa dan agama kita. Semangat!! Semoga ridho Allah dan orangtua bersama kita. Amin ya allah
Selengkapnya >>>